Rajawalibaruna.com | ACEH UTARA – Di tengah duka mendalam yang menyelimuti warga Gampong Meunye Tujoh, Kecamatan Pirak Timur, sebuah aksi kemanusiaan yang berani ditunjukkan oleh pimpinan desa setempat.
Meski Dana Desa tahun anggaran 2026 belum cair, Geuchik Syahrul Rizal mengambil inisiatif cepat dengan menyalurkan bantuan santunan uang duka bagi keluarga korban kecelakaan maut yang melibatkan armada PT Pema Global Energi (PGE).
Langkah ini diambil sebagai bentuk implementasi nyata dari Peraturan Bupati Aceh Utara Nomor 12 Tahun 2026 tentang Pedoman Penyusunan APBG, yang di dalamnya mengatur poin santunan kematian bagi keluarga miskin sebesar Rp1.000.000.
Kronologi “Adu Banteng” yang Merenggut Nyawa
Insiden memilukan ini terjadi pada pukul 10.00 WIB, Sabtu, 4 April 2026 di jalur pemukiman yang tergolong sempit. Kejadian bermula saat Saifullah (55), warga Meunye Tujoh yang mengendarai Honda CRF, berusaha mendahului sebuah Vacuum Truck milik PGE (BL 8263 AX).
Nahas, saat posisi motor berada di samping truk, muncul Muhammad Deni (25) dengan Yamaha Nmax dari arah berlawanan. Benturan keras “adu banteng” tak terelakkan. Sementara Deni terpental ke kiri jalan dengan luka berat, Saifullah jatuh ke arah lintasan truk dan terseret kendaraan besar tersebut hingga mengembuskan napas terakhir di lokasi kejadian.
Inisiatif Geuchik: “Kemanusiaan Tidak Bisa Menunggu”
Syahrul Rizal menegaskan bahwa birokrasi tidak boleh menghalangi kepedulian terhadap warga yang sedang tertimpa musibah.
“Walau dana desa belum cair, program santunan ini tetap kita jalankan. Ini adalah kewajiban kami untuk hadir di tengah kesulitan warga,” tegas Syahrul saat diwawancarai awak media.
Harapan Besar untuk PT Pema Global Energi (PGE)
Selain memberikan santunan dari anggaran desa, Geuchik Syahrul juga menyuarakan kegelisahan keluarga yang ditinggalkan. Almarhum Saifullah meninggalkan tujuh orang anak yang kini kehilangan sosok pencari nafkah utama.
Pihak desa dan keluarga berharap besar agar PT Pema Global Energi (PGE) tidak menutup mata atas kejadian yang melibatkan unit operasionalnya tersebut.
“Almarhum meninggalkan tujuh anak. Harapan kami yang mewakili keluarga, pihak perusahaan (PGE) menunjukkan empati dan kepedulian nyata terhadap masa depan anak-anak yang ditinggalkan. Ini bukan sekadar soal aturan lalu lintas, tapi soal kemanusiaan dan tanggung jawab sosial perusahaan di lingkungan operasionalnya. Ini adalah musibah naas, tidak ada yang bisa mengelak untuk itu. Tidak perlu berpolemik mencari kotak hitam. Kita juga berharap keluarga tabah dan ikhlas dengan cobaan yang Allah berikan. Hari ini Minggu, Insya Allah dari pihak perusahaan PT Pema akan berkunjung ke rumah duka,” tutup Syahrul.
Amun
Kabiro Rajawali Barona
Aceh Utara

