Rajawalibaruna.com | Kendari- Sejumlah masyarakat lingkar tambang dari Desa Ulusawa dan Desa Sangi-sangi, Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel) yang tergabung dalam Front Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir Laonti melakukan aksi jilid II pemboikotan terhadap aktivitas pertambangan PT. Gerbang Multi Sejahtera (GMS) di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Dalam aksi tersebut, sekira 600 orang masyarakat yang tergabung dalam Front Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir Laonti meminta agar PT. GMS bertanggungjawab atas kerusakan lingkungan yang terjadi di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konsel tersebut.

Dalam aksi sekira 600 massa aksi, juga turut diikuti oleh salah satu kader Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Kota Kendari yakni Anhar, yang ikut melakukan aksi demonstrasi di depan PT. GMS pada Sabtu, (18/09/ 2021) tepatnya Pukul 04:00 WITA pekan lalu.

Situasi aksi demonstrasi mulai memanas, saat massa aksi melakukan penahanan terhadap sejumlah mobil perusahaan yang saat itu tengah mengangkut ore nikel. Akibatnya, mobil perusahaan tersebut bersikeras menerobos massa aksi dan terjadilah gesekan antara masyarakat dan karyawan perusahaan.

Aparat kepolisian sempat melerai kedua belah pihak, namun situasi sudah memanas dan sulit untuk ditangani, ditambah lagi dengan aksi salah satu oknum kepolisian yang melepaskan tembakan sebanyak 3 kali ke udara menggunakan senjata laras panjang. Hal itu kemudian yang mengakibatkan kemarahan masyarakat semakin membludak.

Imbas dari gerakan tersebut, beberapa warga ditangkap oleh aparat kepolisian, salah satunya ialah kader LMND Kendari yakni Sdr ANHAR pada Sabtu, 18 September 2022 sekira pukul 17.00 WITA. Ia dituduh telah melakukan pemukulan mengunakan tangan sebanyak 2 kali terhadap seorang karyawan PT. GMS berinisial K.

Melalui proses penyidikan di Polres Konsel, Sdr.ANHAR akhirnya resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditetapkan sebagai Tahanan Kota sejak Jumat, 24 Desember 2021. Sampai saat ini, belum diketahui pasti, sejak kapan kasus tersebut dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan.

Kemudian pada hari Minggu, 4 September 2022, sidang pertama di Pengadilan Negeri (PN) Kecamatan Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan. Sidang tersebut berlangsung selama beberapa hari, tepatnya pada Rabu, 7 September 2022, dan Anhar melalui putusan majelis hakim Pengadilan Negeri Konsel, dijatuhkan hukuman selama 1 tahun penjara.

Kuasa Hukum Anhar, Oldi Aprianto, SH. membenarkan berita putusan tersebut saat dikonfirmasi oleh awak Media Online pada
Jum’at (21/10/22).

“Bahwa benar adanya, dalam proses sidang yang berlangsung sekitar 3 hari itu, dan tepatnya pada 7 September 2022, klien saya Anhar telah dijatuhi hukuman selama 1 tahun,”ungkapnya.

Lanjutnya, Oldi Aprianto, SH. Mengatakan bahwa putusan majelis hakim tersebut dianggap berlebihan dan melalui pertimbangan-pertimbangan yang tidak rasional, padahal klien kami sdr Anhar, ini dalam menjalani prosesi hukumnya, ia selalu bertindak kooperatif dan beritikad baik.

Tegasnya, Bahwa kami selaku kuasa hukum Anhar, pada proses persidangan yang terjadi di PN Andoolo, bahwa kami ini telah mengajukan beberapa bukti yakni adanya saksi A de Charge saksi yang meringankan, yang mana saksi A de Charge ini merupakan saksi yang hadir pada saat kejadian dan melihat langsung, dan didalam proses dugaan peristiwa tersebut tidak ada terjadi penganiayaan sebagaimana yang didakwakan,” jelasnya.

Sambung, yang kedua, kita juga sempat mengajukan salah satu bukti rekaman video, yang dimana rekaman video itu merupakan bukti video yang menceritakan terkait terjadinya dugaan peristiwa penganiayaan, setelah kami memperlihatkan semua bukti mulai rekaman video maupun saksi, namun majelis hakim yang menangani perkara A Quo mengenyampingkan bukti-bukti tersebut, padahal bukti-bukti ini berkesesuaian dengan fakta di lapangan, bahwa dugaan yang dituduhkan kepada sdr.Anhar ini tidak sah atau tidak tepat.

“Kemudian ada yang janggal, melalui proses sidang, tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) selama 3 bulan, kemudian Majelis Hakim menjatuhkan vonis selama 1 tahun, dalam hukum inilah yang disebut dengan putusan Ultra Petita yakni mengabulkan sesuatu yang itu tidak masuk dalam tuntutan,”bebernya.

Kata Oldi, bahwa pihaknya saat ini telah melakukan upaya banding di Pengadilan Tinggi (PT) Sultra, pada Selasa, 20 September 2022 yang lalu, kita sudah ajukan berkas banding nya dan menunggu sekitar 1 bulan untuk proses verifikasi berkasnya.

“Harapannya, semoga berkas banding yang diajukan dapat diterima, kemudian mengenai agenda banding ini bisa berjalan dengan baik, sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku,”ucapnya.

Di tambahkannya, bahwa putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Andoolo, Kabupaten Konawe Selatan, saya kira terlalu subjektif dan tidak melalui beberapa pertimbangan. Dikarenakan bahwa tersangka tersebut tidak mau mengakui perbuatannya dan terlalu berbelit-belit serta meresahkan masyarakat.

“Nah, pertanyaan masyarakat mana yang diresahkan. Justru sebaliknya, kehadiran PT. GMS inilah yang meresahkan masyarakat, sebagai cikal bakal konflik sosial di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan.” tandasnya.

Sementara itu, Ketua LMND Kota Kendari Halim menegaskan akan terus melakukan pengawalan dalam kasus kriminalisasi terhadap salah satu kadernya yakni Anhar dan mengajak semua elemen mahasiswa dan gerakan pro demokrasi di Sultra dan Indonesia untuk melakukan perlawanan terhadap segala bentuk kriminalisasi terhadap aktivis dan masyarakat yang memperjuangkan hak-haknya.

“Saya meminta dan mengharapkan kepada seluruh aktivis mahasiswa, organisasi pro demokrasi yang ada di Sultra dan Indonesia untuk mari bersama mengawal proses banding kawan kita Anhar di Pengadilan Tinggi (PT) Sultra, dan jangan kita biarkan upaya kriminalisasi aktivis dan rakyat ini semakin merajalela di Sultra,” pungkasnya.

Laporan: Nurwindu.nh
Penulis: Ahmad Yahya.T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *