Rajawalibaruna.com | ACEH TIMUR -Kondisi infrastruktur di Desa Kuala Idi Cut, Kecamatan Darul Aman, Aceh Timur, memprihatinkan dan mendesak untuk segera ditangani. Laporan media pada 25 Juni 2025 mengungkap realita yang dialami warga desa wisata dan penghasil garam ini. Jalan utama desa sepanjang dua kilometer, urat nadi perekonomian masyarakat, menunjukkan kondisi memprihatinkan; rusak parah, berbatu, dan berlubang, belum pernah tersentuh aspal. Kondisi jalan ini bukan hanya mengganggu aktivitas warga, namun juga berpotensi mengancam keselamatan, khususnya bagi pengguna sepeda motor. Ketidakpedulian pemerintah daerah terhadap kondisi jalan ini patut dipertanyakan.
Lebih memprihatinkan lagi adalah kondisi jembatan sepanjang 24 meter dan lebar 4 meter yang menghubungkan beberapa dusun di desa tersebut. Jembatan yang rapuh dan rusak tanpa pagar pengaman ini telah memakan korban. Beberapa bulan lalu, seorang anak sekolah jatuh ke sungai dan mengalami luka-luka. Kejadian ini seharusnya menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera bertindak, sebelum jatuh korban jiwa. Minimnya perhatian terhadap keselamatan warga ini menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah dalam melindungi warganya.
Selain jalan dan jembatan, menasah desa juga mengalami kerusakan yang signifikan. Tanpa pagar pengaman, menasah kerap dimasuki hewan ternak seperti sapi dan kambing, mengakibatkan lingkungan sekitar menasah kotor dan tidak terawat. Kondisi ini mencerminkan kurangnya perhatian terhadap tempat ibadah dan simbol keagamaan masyarakat. Ketiadaan pagar menasah juga mengindikasikan kurangnya pemahaman akan pentingnya menjaga kesucian dan kebersihan tempat ibadah.
Desa Kuala Idi Cut, dengan populasi 400 jiwa dan 95 kepala keluarga, mayoritas berprofesi sebagai nelayan dan pedagang, sangat bergantung pada akses jalan dan jembatan yang memadai. Kerusakan infrastruktur ini secara langsung menghambat aktivitas ekonomi warga dan menurunkan kualitas hidup mereka. Pemerintah daerah seharusnya menyadari pentingnya infrastruktur sebagai penunjang perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Pengusulan perbaikan jalan dan jembatan telah disampaikan kepada pihak kecamatan, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil yang berarti. Ketidakjelasan respon dari pemerintah daerah ini menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan akuntabilitas pemerintahan. Masyarakat berhak mendapatkan penjelasan yang jelas dan tindakan nyata dari pemerintah terkait keluhan mereka.
Ketidakpedulian pemerintah terhadap kondisi infrastruktur di Desa Kuala Idi Cut menunjukkan lemahnya perencanaan pembangunan dan alokasi anggaran. Prioritas pembangunan yang tidak berpihak kepada masyarakat pedesaan perlu dipertanyakan. Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap program pembangunan infrastruktur dan memastikan agar alokasi anggaran tepat sasaran dan merata.
Harapan masyarakat Desa Kuala Idi Cut sangat sederhana: perbaikan infrastruktur yang layak dan aman. Perbaikan jalan, jembatan, dan pagar menasah bukan hanya sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Aceh Timur harus segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi masalah ini dan menunjukkan komitmennya dalam membangun desa-desa tertinggal.
Reporter: Idr (Indra)

