RajawaliBaruna.com | Aceh Selatan | Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Aceh Selatan (Hamas) Provinsi Aceh, Ahyadin Anshar menyangkan langkah Direktur Rumah Sakit Umum Yulidin Away (RSUYA) dalam menyikapi temuan limbah medis di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasie Raja beberapa waktu lalu oleh Pansus IV DPRK Aceh Selatan. Sikap Plt Direktur RSUYA terkesan buang badan, bukan memperkuat manajemen lingkungan pada manajemen rumah sakit tersebut melainkan menghimpun awak media untuk buat konferensi pers secara besar-besaran untuk membangun opini bahwa limbah tersebut bukan dari RSUYA. Seharusnya langkah yang diambil membuat penguatan manajemen rumah sakit agar memastikan limbah medis RSUYA tidak bocor ke TPA, perkuat manajemen internal.

Kalau hanya ingin mengatakan itu bukan dari punya RSUYA, ya logikanya manalah mungkin pencuri ngaku, maka biarlah pihak berwenang yang melalukan investigasi untuk itu. Publik bukan menginginkan itu milik siapa, tapi yang diinginkan kejadian tersebut tidak terjadi lagi dan segera mengusut oknum – oknum yang terlibat.

Sangat wajar dugaan awal bahwa itu limbah berasal dari RSUYA akibat bercampur dengan limbah rumah tangga, rumah sakit karena kantong plastik hitam besar berbungkus rapi, karena keterangan warga setempat berasal dari RSUYA yang diantar kontainer sampah.

Logikanya lagi mana ada kantor atau warga masyarakat yang punya kantong besar hitam terikat rapi gitu. Selanjutnya pernyataan Kabid Sampah DLH pernah menemukan kejadian serupa dan juga telah mengkonfirmasi ke Rumah Sakit, kemudian kontainer sampah pihak DLH juga menempatkan kontainer di RSUYA.

Menurut saya pernyataan kepala dinas lingkungan hidup Aceh Selatan sangat logis, kejadian ini sangat jarang terjadi dan beliau menduga bisa jadi karena kekhilafan dan kekeliruan pihak yang memproduksi limbah medis, dalam memilahnya antara limbah medis dan limbah non medis. Maka yang diperlukan pihak memproduksi limbah medis, evaluasi diri bukan buang badan.

Menurut saya sebaiknya Plt Direktur RSUYA itu evaluasi diri, perkuat manajemen, mengungkap kebenaran bukan pembenaran. Kalau langkah kerja Plt Direktur dalam menghadapi temuan demikian kapan majunya pelayanan kesehatan di Aceh Selatan, sebaiknya Direktur RSUYA mundur saja, biarlah Bupati Aceh Selatan menunjuk orang yang telah memenuhi syarat definitif menjadi pimpinan RSUYA.

Tidak baik terlalu lama status Plt Direktur RSUYA dipertahankan, walaupun beliau adalah sepupu kandung istri Bupati Aceh Selatan sebaiknya mundur dulu fokus ke jabatan kabid Pelayanan, sebagai PPTK Pembangunan dan sebagai dokter spesialis, setelah cukup syarat dapat ditunjuk kembali sebagai direktur definitif dan kabid pelayanan dapat di isi oleh orang lain, demi kemajuan pelayanan kesehatan di Aceh Selatan. Mengemban amanah ganda dalam waktu bersamaan itu berat, merangkap sebagai direktur, sebagai kabid, sebagai PPTK, sebagai Dokter Spesialis, tidak akan maksimal kinerja apalagi kalau hanya di dasari oleh faktor kerabat istri Bupati Aceh Selatan.

Terakhir, saya juga menyangkan sikap dan langkah Komisi III Bidang Kesehatan, yang terkesan menjadi jongosnya Plt Direktur RSUYA yang hanya bisa ikut meramaikan konferensi pers pembenaran atau buang badan. Harusnya, karena Komisi membidangi Kesehatan, melakukan investigasi agar terungkap fakta kebenaran bukan pembenaran. DPRK Jika dalam waktu dekat tidak ada langkah kongkrit terkait masalah ini maka sepantasnya kami sampaikan Komisi III DPRK Aceh Selatan yang diketuai oleh Hernanda Tahir adalah mandul. Pro kebijakan pemerintah boleh – boleh saja tapi jangan sampai dungu lah, sindir Ahyadin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *