Rajawalibaruna –  Praktik Filantropi Bawon Pada Saat Covid-19, pandemi covid- 19 memanglah belum seluruhnya berakhir. Tetapi pandemi ini sudah melumpuhkan banyak zona kehidupan manusia. Tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar, pabrik yang bangkrut, serta hotel yang tutup. Zona perdagangan juga terimbas oleh kegiatan lockdown, PPKM, serta PSBB. Tidak sedikit supermarket, mall, serta pusat perbelanjaan yang mengadakan pengurangan jumlah karyawannya, apalagi melaksanakan PHK massal. Orang dagang kecil serta orang dagang kaki 5( PKL) tidak luput dari sasaran pandemi. Pemberlakuan jam malam membuat banyak pelakon usaha angkringan, lesehan, nasi goreng, serta sejenisnya yang wajib menelan realitas getir pendapatannya merosot sangat tajam. Pembatasan makan 20 menit yang sempat dicoba diterapkan berefek kepada usaha restoran serta warung makan yang membuat para konsumennya merasa tidak aman dalam menikmati santap makannya.

Di balik seluruh duka kelabu akibat pandemi covid- 19, zona pertanian dinilai sangat tangguh dalam mengalami pandemi. Kenapa demikian, sementara itu kebijakan pemerintah kadangkala tidak berpihak kepada para petani kecil? Semacam import beras pada dikala panen raya? Ketangguhan zona pertanian ini nyatanya lebih diakibatkan sebab warga Indonesia memahami budaya gotong royong yang melahirkan bermacam filantropi( kedermawanan), semacam dalam aplikasi tandur, matun, serta bawon. Aplikasi tandur serta matur cuma dicoba oleh orang- orang yang memanglah mempunyai keahlian buat menanam serta menyiangi padi. Tetapi aplikasi bawon dapat dicoba oleh siapa juga dari masyarakat desa, namun diprioritaskan buat orang- orang yang tidak mempunyai lahan pertanian dengan tujuan supaya dapat turut berbagi merasakan kegembiraan masa panen padi. Aplikasi bawon ini jadi karakteristik filantropi masyarakat desa di Kabupaten Cilacap serta sekitarnya. Walaupun menjual padi dengan sistem diborongkan hendak lebih menguntungkan, tetapi para petani di Cilacap lebih menggemari senantiasa melestarikan filantropi bawon. Apalagi kala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap mengenalkan mekanisasi pertanian dengan memakai mesin pemanen padi, masyarakat senantiasa bersikukuh melestariakan aplikasi bawon walaupun di tengah pandemi Covid- 19.

 

Salah satu wilayah yang masih melakukan aplikasi filantropi bawon merupakan Dusun Kubang Desa Kalijeruk Kecamatan Kawunganten Kabupaten Cilacap. Atmosfer panen raya di Dusun Kubang masih mempertahankan aplikasi tradisi bawon. Bagi Sukirno, Pimpinan Kelompok Tani Dusun Kubang dikala diwawancarai oleh Elyn Kusuma Mahardika, dipertahankannya tradisi bawon dengan alibi supaya masyarakat yang tidak mempunyai sawah dapat ikut dan menikmati kegembiraan masa panen. Walaupun di wilayah lain telah terdapat yang melaksanakan panen dengan sistem diborongkan kepada pembeli padi ataupun memakai mesin pemetik padi, namun masyarakat Dusun Kubang senantiasa mempertahankan sistem bawon supaya dapat berbagi hasil panen dengan masyarakat yang tidak mempunyai sawah.

 

Aplikasi bawon yang dicoba oleh masyarakat Dusun Kubang tidak seluruhnya mempraktikkan protokol kesehatan dengan benar. Memanglah terdapat sebagian yang mengenakan masker, tetapi dicoba bukan sebab menjajaki protokol kesehatan, tetapi buat melindungi dari debu serta kotoran akibat aktivitas bawon. Dalam perihal jaga jarak juga demikian. Sebagian melaksanakan jaga jarak sebab menjajaki alur proses bawon yang dibagi jadi sebagian sub aktivitas, bukan dalam rangka menghindari penularan covid- 19. Bagi Sukirno, tidak diterapkannya protokol kesehatan dengan benar disebabkan mayoritas para petani tidak mempunyai pengetahuan yang lengkap tentang pandemi covid- 19. Beradasarkan survei yang dicoba oleh Elyn Kusuma Mahardika, dikenal kalau 10% penduduk Dusun Kubang berkata tidak ketahui tentang terdapatnya pandemi serta 43% yang lain berkata ragu- ragu dengan kebenaran data tentang covid- 19. Cuma 47% penduduk yang mengenali tentang pandemi covid- 19. Sehingga masih banyak masyarakat yang bergairah menjajaki aktivitas bawon.

 

Kebanyakan pelakon bawon tidak mengenakan masker serta tidak melindungi jarak. Menimpa alibi kenapa banyak pelakon bawon tidak mengenakan masker, jawabannya merupakan 7% petani berkata tidak ketahui apabila wajib mengenakan masker, tetapi 93% petani berkata kalau memakai masker bisa mengusik kegiatan bawon. Memanglah terdapat petani yang turut bawon yang mengenakan masker, tetapi sebabnya cuma buat melindungi dari debu ataupun kotoran sekam padi.

 

Terdapat juga alibi para petani yang melaksanakan bawon tidak melindungi jarak, 80% petani beralasan jaga jarak bisa menyulitkan pekerjaan, 10% beralasan sebab tidak ketahui terdapatnya keharusan jaga jarak, 3% petani cuma ikut- ikutan tidak jaga jarak, serta 7% yang lain mempunyai alibi berbeda. Apalagi masyarakat yang kedapatan lagi batuk ataupun pilek tidak dilarang buat turut aktivitas bawon.

 

Dengan demikian hingga zona pertanian tidak terdampak oleh pandemi covid- 19. Salah satu indikatornya merupakan senantiasa berlangsungnya aktivitas bawon yang ialah aplikasi filantropi buat menolong masyarakat desa yang tidak mempunyai lahan pertanian. Mengingat tuntutan kebutuhan pangan ialah kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar- tawar lagi, hingga aplikasi filantropi ini terus dilaksanakan. Para petani tidak sangat panik dengan pandemi covid- 19, sehingga mereka senantiasa melakukan aktivitas pertaniannya semacam biasa. Nuansa gotong royong senantiasa terasa walaupun di tengah pandemi yang tidak kunjung usai.

 

Memanglah belum terdapat juklak ataupun ketentuan berbentuk protokol kesehatan buat pelakon aktivitas pertanian. Pelaksanaan protokol kesehatan yang berbentuk mengenakan masker serta jaga jarak sangat menyulitkan kerja para petani, paling utama dalam aktivitas bawon. Seandaianya terdapat yang sebagian kecil pelakon bawon yang memakai masker ataupun jaga jarak, sebabnya juga tidak terpaut dengan protokol kesehatan, namun sebab melindungi dari debu ataupun kotoran akibat dari penggilingan sekam padi. Apalagi masyarakat yang lagi batuk serta pilek senantiasa diperbolehkan menjajaki aktivitas bawon dengan alibi kemanusiaan.

 

Sesungguhnya apabila berhubungan dengan protokol kesehatan, para owner lahan dapat memakai penjualan sistem borong ataupun memakai mesin pemotong padi, sehingga kerumunan orang tidak hendak terjalin. Namun masyarakat Dusun Kubang senantiasa mempertahankan tradisi bawon dengan alibi buat menolong kecukupan pangan masyarakat yang tidak mempunyai sawah. Bersumber pada survei diperoleh informasi kalau 47% masyarakat optimis aplikasi bawon senantiasa hendak berjalan walaupun di tengah pandemi, apalagi 53% masyarakat melaporkan sangat optimis. Frekuensi keikutsertaan masyarakat dalam aktivitas bawon sangat mempengaruhi terhadap tingkatan optimisme hendak terus berjalannya aplikasi filantropi pada tradisi bawon. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *