Foto: Seni Poh Kipah Grup Tangkulok Pasee Saat Tampil di halaman Kantor bupati Aceh Utara pada Peringati Milad ke-800bTahun Samudera Pasee
Foto: Seni Poh Kipah Grup Tangkulok Pasee Saat Tampil di halaman Kantor bupati Aceh Utara pada Peringati Milad ke-800 Tahun Samudera Pasee

Rajawalibaruna.com | Aceh Utara – Di bawah sorot lampu panggung di Landeng, Lhoksukon, Selasa malam (8/9/2026), sebilah pelepah pinang kering menjelma menjadi untaian nada yang memikat. Di tangan para penari Group Seni Tangkulok Pasee, ketukan ritmis situek itu berpadu selaras dengan keanggunan syair, menghanyutkan ribuan pengunjung yang memadati perayaan Milad ke-800 Samudera Pasai Aceh Utara.

Malam itu, seni tradisi Poh Kipah hadir dengan daya hidup yang luar biasa. Irama dinamis yang disuguhkan seolah mengajak penonton meresapi kembali perjalanan panjang kesenian ini, Mulanya, ia hanyalah media sederhana yang menemani warga saat berlatih zikir maulid Nabi. Kini, Poh Kipah telah merawat posisinya sebagai bagian dari identitas daerah.

Namun, di balik riuh rendah apresiasi penonton malam itu, ada cerita lain yang berjalan beriringan. Sebuah kisah sunyi tentang warisan leluhur yang dipaksa bertahan hidup lewat jalan mandiri.

Merawat Identitas Sejak Era Konflik

Syekh Yusran Yus, pimpinan Tangkulok Pasee, telah lama mendedikasikan energinya dalam ruang pelestarian yang senyap ini. Kelompoknya konsisten menjaga denyut seni Poh Kipah sejak tahun 2002—sebuah masa penuh tantangan ketika Aceh masih diselimuti suasana konflik bersenjata.

“Saya dulu dilatih langsung oleh almarhum paman saya, Syekh Awahab Syah,” kenang Yusran.

“Selama ini kami terus berikhtiar merawat seni budaya ini secara mandiri. Harapannya hanya satu, agar identitas asli kebanggaan masyarakat Pasee tidak hilang ditelan zaman”.

ini Bagi Yusran, kemandirian ini memercikkan rasa bangga sekaligus refleksi mendalam. Ia mengakui bahwa kesempatan tampil di panggung besar hari ini tidak lepas dari kebaikan pihak-pihak independen. Secara khusus, ia mengapresiasi sponsorship dari media massa Tribunpase.id yang selama ini telah memberikan dukungan .

Perhatian konkret dari sektor swasta seperti inilah yang menurutnya menjadi penyambung napas kesenian tradisional agar tetap eksis.

Merindukan Aksi Nyata Pelestarian Adat

Kemeriahan Milad ke-800 Samudra Pasai pada akhirnya menitipkan sebuah pesan penting. Apresiasi di atas panggung seremonial yang bersifat sesaat dinilai belum cukup menjadi tolok ukur keberlanjutan sebuah warisan budaya.

Penampilan memukau Seni Poh Kipah Grup Tangkulok Pasee malam itu menjadi bukti nyata betapa tangguhnya seni akar rumput yang berdikari.

Namun, menyerahkan masa depan kebudayaan daerah sepenuhnya pada keringat para seniman dalam merawat seni budaya dan dukungan swasta adalah bentuk pengabaian yang semestinya tidak terus berjalan. Bumi Pasee hari ini merindukan kehadiran para pemangku adat yang bersedia turun ke lapangan, memberikan pembinaan yang nyata dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *