Rajawalibaruna.com |Bireuen — Dalam rangka menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke‑26 Kota Bireuen, panitia menyelenggarakan Pekan Kebudayaan Bireuen 2025 dengan deretan acara spektakuler yang berlangsung mulai Selasa, 7 Oktober 2025, di Stadion Cot Gapu — Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ribuan warga, seniman lokal, pemerintah daerah, serta tamu undangan hadir meramaikan rangkaian acara yang dikemas dengan tema besar: apresiasi budaya sekaligus penguat identitas lokal.

Rundown acara malam itu sangat padat dan inspiratif. Acara dibuka dengan *rehearsal opening ceremony* sejak pukul 16:00 WIB. Setelah senja tiba, panggung utama Transform diisi dengan penampilan musik tradisi, rapai khas Blang Peusangan, musik kreatif, hingga pembacaan ayat suci Al‑Qur’an dan shalawat.

Beberapa momen puncak yang mencuri perhatian:

– Tarian tradisi sebagai pengantar malam budaya
– Lagu kebangsaan dan Hymne Aceh & Mars Bireuen
– Sambutan resmi dari Bupati Bireuen, *H. Mukhlis, ST*, yang sekaligus membuka acara secara simbolis
– Penampilan *solo musik performance* pengisi acara lokal
– Festival Rapai antar kecamatan (Kuala, Peulimbang, Makmur) yang menjadi magnet tersendiri untuk penonton
– Penampilan tari tradisi warisan budaya “Rabbani Wahed” oleh sanggar SMP 1 Bireuen

Acara malam itu makin terasa istimewa ketika para peserta tampil di panggung Cot Gapu dengan begitu penuh semangat. Tak hanya hiburan, suasana kebersamaan sangat terasa — para tamu undangan diajak melihat langsung foto dokumentasi, pameran budaya, dan berdiri berdampingan bernyanyi dalam keharmonisan.

Dalam sambutannya, Bupati Mukhlis menyampaikan bahwa Pekan Budaya ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, antara identitas lokal dan dinamika zaman. Ia juga menyerukan agar warga terus menjaga nilai-nilai budaya sebagai jati diri yang tak lekang oleh zaman.

“Acara semacam ini bukan sekadar hiburan, tapi pengingat bahwa Bireuen punya kekayaan budaya yang patut diwaris dan dikembangkan,” ujarnya.

Selain itu, saat festival rapai, rasa semangat dan kompetisi sehat terasa nyata dari setiap kecamatan yang tampil. Riuh tepuk tangan penonton memberikan apresiasi atas keunikan masing-masing penampil.

Acara malam diakhiri dengan suasana senja yang hangat—semua orang merasa ikut menjadi bagian dari malam kebudayaan bersejarah di Bireuen.

(Erna)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *